06 Mei 2009

BERSAMA TEMAN FASKEL SRENGAT DI PANTAI TAMBAKREJO BLITAR

SANG ORATOR

Haris_Blitar,Faskel KMW 16, 28 Februari 2007, jam 9:09:32
SANG ORATOR


Minggu, 25 Februari 2007

Hari itu…aku merasa beruntung, sebab rencana semula naik Bis Patas dari Surabaya menuju Kediri kubatalkan dan beralih menaiki bis kelas ekonomi. Mengapa aku merasa beruntung..? karena andai saja waktu itu aku naik bis patas mungkin aku tidak akan menemukan pengalaman yang berharga dalam hidup ini. Betapa tidak…,dalam suasana yang kurang nyaman…,dengan udara yang panas serta deru suara mesin kendaraan yang membisingkan…,aku menikmati suguhan dari kaum kecil yang lalu lalang dan naik turun silih berganti didalam bis yang kutumpangi itu. Suguhan luar biasa itu bisa menjadi pelajaran penting bagi aku sendiri maupun orang lain. Aku begitu terkagum-kagum dengan keberanain yang dimiliki oleh rakyat jelata demi mencari sesuap nasi.


Yah….sang orator itu ada di depan mataku. Berbekal rasa percaya diri yang luar biasa..seorang ibu setengah baya dengan menggendong anak kecil kira-kira usia 3 tahunan berbicara di depan puluhan penumpang yang ada di bis itu. Si Ibu tidak pernah peduli dengan status sosial dan tingkat pendidikan penumpang. Apakah penumpang itu kaya, miskin tau ia seorang mahasiswa, dokter, dosen, pelajar, aktifis, guru, anggota DPR, buruh pabrik, tukang sayur, kuli bangunan, tim leader atupun seorang fasilitator pemberdayaan. Yang jelas…ibu muda itu dengan semangat dan motivasi yang dimilikinya berusaha mengaktualisasikan dan mengekpresikan dirinya untuk berbicara di depan publik. Akupun berusaha menyimak kata-kata yang terlontar dari mulut si Ibu itu ;

“Assalammu’alaikum warahmatullahiwabarakatuh..
Bapak-bapak dan Ibu-ibu penumpang yang berbahagia.., jumpa kembali dengan saya pengamen jalanan. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila kehadiran saya mengganggu kenyamanan anda dalam perjalanan ini. Tidak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada para kondektur dan para sopir yang mengijinkan saya untuk mengamen di bis ini….(bla…bla…bla…)

lalu si Ibu itu pun mengambil sesuatu dari balik kebaya yang dipakai untuk menggendong anaknya. Sebuah peralatan musik sederhana (ecek-ecek) yang diambil oleh si Ibu itupun dibunyikan dengan diiringi lagu yang menyayat hati dari suara merdu sang biduan jelata ;

“Sungguh terpaksa….aku menyanyi….mendengar suara jeritan hati…..
coba dengarkan….aku menyanyi… mengharapkan tuan bermurah hati….

sungguh aku malu…tiada terkira..
menengadahkan tangan meminta-minta..
Dst……….dst…dst….

Saat lagu yang dinyanyikan oleh Biduan itu berakhir..,maka sang biduanpun menutupnya dengan kalimat sebagai berikut ;
“Demikian sebuah lagu yang kami nyanyikan..semoga dapat menghibur perjalanan bapak-bapak dan ibu-ibu. Sekali lagi saya mohon maaf apabila mengganggu perjalanan anda..,dan tidak lupa kami do’akan semoga perjalanan bapak-bapak dan ibu-ibu mendapat perlindungan dari Allah swt dan selamat sampai tujuan”.

LUAR BIASA…!!! MENGAGUMKAN SEKALI..!!. Tanpa ada rasa takut… grogi..,malu…,minder…,dan tidak perduli apakah yang dihadapi adalah orang yang punya status sosial lebih ataupun berpendidikan tinggi, Si Ibu itu telah membuktikan dirinya dengan menjadi ORATOR YANG ULUNG. Si Ibu itu telah membuktikan bahwa dirinya mampu berbicara di depan public. Si Ibu itu membuktikan kepada dunia bahwa orang miskin pun bisa berbicara di depan umum. Si Ibu itu seolah-olah ingin menunjukkan kepada kita..bahwa orang miskin itu punya potensi. Si Ibu seolah-olah ingin menantang kepada penumpang yang ada di situ..”ayo..siapa yang berani berbicara di depan umum seperti saya ini…?”. Dan si Ibu itu seolah-olah memberikan nasihat kepada saya dan teman-teman lainnya yang berprofesi sebagai seorang calon fasilitator pemberdaya…bahwa aku dan teman-teman pasti bisa menjadi seorang pembicara publik. Barangkali isi nasihat yang diberikan oleh si Ibu itu seperti berikut ini ;

“Engkau harus menjadi dirimu sendiri…
Jangan pernah takut dan malu untuk berbicara di depan umum…
Hilangkan rasa takut dan grogi saat engkau mulai membuka pembicaraan..
Maka kalimat-kalimatmu akan mengalir lancar..
Tapi banyak-banyaklah engkau belajar..
Karena akupun demikian…sebelum aku menyampaikan..aku terus belajar..dan terus belajar.”

Ah…rupanya nasihat yang tersirat dari sorot mata sang Orator begitu melekat dalam ingatanku. Akupun berusaha menyelami makna hidup ini…,bahwa hidup dengan rakyat jelata telah membukakan mata hatiku untuk peduli dan menghargai mereka. Bisa jadi mereka miskin harta..tapi kaya akan ilmu dan pengalaman hidup. Namun banyak juga orang kaya dengan harta yang berlimpah namun sejatinya mereka miskin. Baik miskin ilmu, Akhlak maupun pengalaman hidup.

Pada akhir tulisan ini…sekali lagi saya sangat bersyukur kepada Alllah swt karena bisa menikmati perjalanan dengan menggunakan bis ekonomi dari Surabaya tujuan Pare-Kediri. Tidak lupa pula kami mengucapkan banyak terimakasih kepada SANG ORATOR dalam hal ini para pengamen bis antar kota yang rata-rata punya kemampuan menjadi seorang pembicara public. Karena ternyata selain ibu itu yang menjadi pengamen di bis yang aku tumpangi..masih banyak pengamen lainnya yang juga ikut berorasi di bis tersebut. Dengan demikian akupun banyak mendapat ilmu dari mereka semua. Dan yang jelas..selain ilmu yang bisa kudapat..akupun mendapatkan tambahan bonus berupa do’a keselamatan dari Sang ORATOR.



Terimakasih

Blitar, 28 Januari 2007



Ditulis oleh ;

Haris Yuniarsyah, Eks. Fasilitator P2KP II.2 KMW 16 wilayah dampingan Kecamatan Srengat – Kabupaten Blitar. Saat ini penulis masih berstatus sebagai Fasilitator Kelurahan P2KP Phase II KMW 16 dengan wilayah dampingan Kecamatan Wlingi dan Kecamatan Srengat Kabupaten Blitar.

Dipersembahkan untuk :
“Teman-teman yang pernah mengikuti pelatihan PNPM P2KP baik di Gelombang I maupun Gelombang II diseluruh Indonesia terutama di wilayah KMW 16. Untuk teman-temanku waktu pelatihan PNPM Gel. I di Diklat PU Surabaya ijinkan saya mengucapkan salam P2KP kepada kalian semua Teman-teman di Kelas C ;

1. Ainur Rosyidi..,ojok latahan dik..?
2. Aisyah Nikma Sariwati...,Nomor Frennya milik siapa ya mbak…?
3. Astri Furqoni…,Kangen suarane dan goyangane itu lho..?
4. Djoko Purmandoko…,apa masih kayak Om Liem..?
5. Dodik Merdiawan…,jadi ingat dengan “kalau Disimpulkan jadi Buaaanyak…? Ha…ha..ha
6. Dwi Ratna Sari..,trims banyak karena aku boleh nitip barang banyak sekali
7. Eddy Iwantoro…,Puisi Kahlil Gibrannya OK banget
8. Elly Sulistiawati…,”pemecah rekor sebagai keluarga P2KP…”
9. Evi Farida Agustina…,mau married mei…jangan banyak main HP di kelas
10. Hantok Fadillah Harmin…,paling muda di antara pemuda
11. Imam Muslim…,Tak disangka..walau berjenggot ternyata pintar njoged juga di depan umum
12. Indah Sumarwana…,jangan nangisan ndah ya..,lagi kangen pak afnun ya..?
13. Kholilah…,Bu guru berkacamata…adiknya Baasy…..
14. Maria Christma…,Bu ket..yang baik hati dan senang sekali nyanyi
15. Moh Afnun…Mudah-mudahan naik hajinya terkabul,,jangan lupa bakso-soto..bakso-soto..
16. Hudi Setyobakti…,pandai juga kamu joget komando
17. Mohammad Ilham…,mana kesimpulannya pak…?
18. Muhammad Ghazi..,Si Ustad serba bisa dan punya daya tarik luar biasa…
19. Novariq Muhariroh…,eh…jangan kurang ajar yo..? ternyata latah juga
20. Nuril Wahyudi…,Dai Bachtiar dari Sumenep
21. Siti Nur Aisyah…,Pemudi paling muda diantara pemudi dan pemuda
22. Nurul Farida…,yang sabar ya..? semoga duka akan segera menghilang.
23. Siti Nur Aisyah..,pemudi paling muda diantara pemudi dan pemuda
24. Triatmono…,”Koclok…edan…,tapi pintar juga goyeng campursari…
25. UM Ali Wardhana…,maaf ngerjain waktu ulang tahun..tapi senang juga kan pak…?


OK…SELAMAT BERJUANG SEMUANYA. HIDUP KELAS C.

05 Mei 2009

KENANGAN DI BATU BERSAMA TEMAN-TEMAN KORKOT BLITAR

Blitar, 2 Februari 2006
Kunjungan Pak Rika dan Meninggalkan Hati di Dusun

Cerita lapang ini kembali ditulis Haris Yuniarsyah, Faskel KMW XVI yang bertugas di Srengat, Blitar, Jawa Timur. Tulisan ini melukiskan keindahan alam desa dampingan, serta kesan yang tertinggal di dalamnya.

Kunjungan Pak Rikawanto Ke Dusun Bening

Pertengahan Juli 2005, TA Monev RM-3 Jawa Timur, Rikawanto mengunjungi salah satu desa dampingan tim kami, guna mengetahui kegiatan yang dilaksanakan relawan. Kebetulan sore itu di Desa Togogan, relawan sedang menggelar acara kumpul-kumpul untuk persiapan lokakarya Pemetaan Swadaya.

Pak Rikawanto, didampingi Korkot dan Askorkot, kami arahkan ke Dusun Bening. Tepatnya di rumah Pak Nurohim. Pertemuan Pak Rika dengan relawan, tak terkecuali Pak Lurah setempat, berlangsung dalam suasana santai dan hangat. Begitu akrab dan rileks. Tanpa tersirat rasa takut dari wajah para relawan.

Memang sengaja pertemuan itu dilangsungkan di luar ruangan. Di bawah pohon, dalam suasana alam terbuka, bebas, dan dipenuhi udara segar. Sejauh mata memandang, hanya nampak hamparan sawah. Sesekali terlihat kawanan itik yang dihalau pulang ke kandang oleh pemiliknya. Di pojok sawah, tampak seorang bapak menaiki pohon kenanga, memetik kembangnya. Pertemuan sore itu, sungguh berkesan.

“Semoga Pak Rika mau datang lagi ke tempat kami,” kata relawan.

Meninggalkan Hati di Dusun itu

Senja itu, angin berhembus semilir, menuntun langkahku menerobos kegelisahan nan mendalam. Aku ingin segera bertemu dengan wajah-wajah sedih yang terpateri di sana.
Kutinggalkan hati ini di dusun itu. Agar hati ini pun turut merasakan penderitaan yang telah lama dialami mereka. Hidup dalam kemiskinan akibat penindasan dan ketidakadilan.

Tebersit tanya di jiwaku. Mengapa keadilan tak pernah berpihak pada mereka yang miskin? Ke manakah rasa keadilan selama ini? Dengarlah apa yang mereka sampaikan! Dari mulut mereka terlontar cerita, tentang penderitaan hidup yang dialaminya selama puluhan tahun. Kekuasaan menindas mereka. Kekuasaan membuat mereka semakin menderita. Kekuasaan membuat mereka makin tak berdaya! Hanya karena mereka miskin, maka kekuasaan tak mau memihak kepadanya?

Aku meninggalkan hati di dusun itu, dengan perasaan penuh luka. Aku berharap, semoga kemiskinan cepat berlalu. (edit: Nina)

25 September 2008

SELAMAT HARI RAYA IEDUL FITRI 1429 H

SELAMAT HARI RAYA IEDUL FITRI 1429 H...

Semoga di hari yang fitri ini...kita bisa menjadi manusia yang bersih..
bersih dari segala kesalahan...
bersih dari noda dosa...
Tak ada lagi permusuhan diantara kita...
Yang perlu kita pupuk ke depan adalah rasa saling cinta...
rasa saling menyayangi...

Karena permusuhan membuat kita menderita seumur hidup...
Sedangkan cinta dan kasih sayang...menjadikan hidup kita bahagia...

Sekali lagi...selamat hari raya iedul fitri 1429 H..
Mohon maaf lahir batin....

Minal aidin wal faidzin.



Haris Yuniarsyah dan keluarga

13 September 2008


MENGENAI SAYA

AKU DAN KERINDUAN

Namaku Haris Yuniarsyah.. Lahir pada tanggal 19 Juni 1973 di Surabaya.
Saat ini usiaku sudah menginjak 35 tahun..,
Sebuah usia yang sudah tidak muda lagi tentunya.
Tepat tanggal 19 Januari 2005 di Kecamatan Srengat… Allah mempertemukan aku dengan seorang gadis dari Pare-Kediri.
Alhamdulillah…,dari hasil pernikahanku, aku dan istriku dikaruniai 2 orang anak.
Anak pertamaku laki-laki kuberi nama ; MUHAMMAD AZKA ZUHDANSYAH.
Azka Lahir tanggal 10 Juli 2006, pas lagi Final Piala Dunia antara Perancis Vs Italia.
Sedangkan adik Azka perempuan dan kuberi nama ; NAQIYYA ILZA ZAHIRAAH yang lahir pada tanggal 20 Februari 2008.Pada saat Naqiyya lahir..,aku tidak bisa menunggui istriku, karena saat itu aku sedang memandu pelatihan motivasional relawan program PNPM-P2KP di Kec. Wlingi.
Maafkan ayah ya buk…,?. Maafkan ayah ya nak…?.Begitulah kisah tentang aku…
Apabila engkau merindukan aku..
Jangan sungkan dan segan… Untuk terus berkomunikasi dengan aku..
Barangkali itu bisa menjadi pengobat kerinduan… Akan pentingnya keluarga..,Dan persahabatan..,.
(Blitar, 28 Mei 2008)

PAK BASRI

Blitar, 27 Januari 2006
Pak Basri dan Camat Bukan Jabatan

Berikut adalah kumpulan cerita yang ditulis Faskel KMW XVI, Haris Yuniarsyah, yang bertugas di Srengat, Blitar, Jawa Timur. Masih tentang kepedulian akan rona kemiskinan di wilayah dampingannya.

Istirahatlah, Pak Basri

Pak Basri. Guratan keriput tegas menghiasi pipimu. Penglihatanmu pun mulai berkurang. Namun, engkau senantiasa setia menuntun sepeda birumu yang terisi tumpukan rumput dan ilalang itu. Tak peduli terik matahari, telapak kakimu telah kebal terhadap panasnya aspal jalanan.

Kelelahan membaluri wajah Pak Basri. Hingga detik ini engkau masih terus bekerja. Ratusan kilometer telah kau lalui saat kau tuntun sepedamu. Untuk pria sebayamu, itu sangat jauh. Jauh sekali, Pak Basri. Lalu, kenapa kau lakukan itu? Apakah karena kemiskinan membelenggumu?

Pak Basri. Istirahatlah, Pak. Biarkan rakyat dan negara nan kaya ini mengurusimu. Kini giliranmu beristirahat. Menikmati sisa hidup dengan ketentraman dan ketenangan. Jangan biarkan tubuh tuamu terus menerus dalam kelelahan. Istirahatlah, Pak Basri.

Setiap pagi, Bapak punya hak menikmati secangkir kopi panas. Siang, Bapak punya hak untuk tidur siang seraya mendengarkan gending Jawa yang Bapak suka. Malamnya, Bapak juga punya hak berbagi cerita dengan cucu-cucu bapak. Mendongengkan cerita kepahlawanan, sampai mereka tertidur lelap. Lalu, di penghujung malam, ketika semua orang tertidur lelap, Bapak bisa lebih khusyuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Memohon ampun kepada Allah dalam Tahajud yang Bapak tunaikan.

Istirahatlah, Pak Basri. Jangan biarkan lagi mata orang yang memandangmu meneteskan air keharuan.

Camat itu Bukan Jabatan, Mas!

Siang itu di sebuah rumah di Dusun Kendaldoyong, Desa Togogan, aku berbincang dengan seorang relawan. Dia bercerita, kebanyakan para pemuda di desanya segan ketika harus menghadap Pak Lurah atau pun Pak Camat. Karena, pemuda di sana, menganggap jabatan lurah ataupun camat begitu tinggi, sehingga mereka segan dan takut untuk bertemu kedua “mahluk” tersebut.

Akhirnya, relawan itu menyemangati mereka. “Jangan takut menghadapi mereka. Bupati, camat, lurah, semua itu sebenarnya bukan jabatan, Mas, tapi pekerjaan. Sama seperti pelamar pekerjaan. Mereka juga harus melamar dan mengeluarkan uang. Setelah mereka menjadi bupati, camat, atau lurah pun mereka mendapat gaji setiap bulan. Jadi, mulai sekarang kamu harus berani menghadapi mereka. Kalau memang ada kepentingan, datang saja ke mereka. Nggak usah takut.

“Menurut saya, yang namanya jabatan itu, hanya diemban oleh orang yang benar-benar ikhlas menerima amanah tersebut dari masyarakat. Mereka bekerja tanpa pamrih dan tidak mendapatkan gaji. Nah, seperti relawan masyarakat di P2KP. Itu baru namanya jabatan,” tandas Pak Relawan.

Ah, sekarang aku yang jadi bingung. Memangnya apa sih, Pak, beda jabatan dengan pekerjaan? (edit: nina)


Blitar, 5 September 2006
Mbah Rumi, Dalam Kenangan

Innalillaahi wa innailaihi Roji’uun…

Telah meninggal dunia dengan tenang, hamba Allah bernama Mbah Rumi. Almarhumah menghadap Sang Khalik pada Senin, 4 September 2006.

Semasa hidupnya almarhumah adalah seorang wanita yang masuk kategori miskin dan merupakan penerima manfaat dana BLM P2KP Termin II untuk kegiatan rehab rumah warga miskin di Desa Dermojayan, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, Propinsi Jawa Timur.

Kami, sebagai Fasilitator, turut merasakan kehilangan yang mendalam atas meninggalnya beliau. Namun demikian, kami sedikit lega karena sebelum Mbah Rumi meninggalkan dunia yang fana ini, beliau sempat menikmati rumah barunya yang telah direhab, meski hanya sebentar.

Semoga arwah almarhumah mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya. Semoga amal ibadah beliau selama hidup di dunia diterima oleh Allah SWT. Dan, semoga segala dosa-dosa beliau diampuni, serta dilapangkan kuburnya. Amin.

Selamat jalan Mbah Rumi. Beristirahatlah dengan tenang. Engkau sudah terlalu lelah menikmati kemiskinan berkepanjangan. Semoga “rumah barumu” di sana menjadi tempat yang lebih baik bagimu. Amin. (Haris Yuniarsyah, Faskel Srengat, Blitar, KMW XVI P2KP 2; nina)

Blitar, 23 Januari 2006
Melukis Kemiskinan di Dusun Bening

Seorang warga Dusun Bening, Togogan, bercerita padaku. Tentang betapa akrabnya kampung dia dengan kemiskinan. Misalnya saja dari lingkungan dan perumahan. Pada umumnya rumah yang dihuni warga miskin, tidak layak huni.

“Masih banyak rumah yang terbuat dari bambu atau gedek. Lantai rumahnya saja masih tanah. Kasihan mereka, Mas,” kata dia lagi. Jalan perkampungan juga masih berupa tanah dan pasir saja, belum diaspal. “Sekitar 10 tahun lalu, jalanan di kampung ini pernah diukur oleh petugas. Katanya, setelah diukur, nanti kampung kami akan diaspal. Tapi, ternyata itu hanya janji belaka. Sampai sekarang tidak ada perubahan, tetap jalanan tanah,” ujar dia lagi. Apalagi, penerangan jalan sama sekali tidak memadai, akibat banyaknya lampu yang mati dan tidak diperbaiki.

Dari segi ekonomi, pada umumnya warga dusun hanya bekerja sebagai buruh tani. Puluhan warga berangkat ke sawah mulai pukul 06.00 WIB untuk manjing (bekerja sebagai buruh tani atau petani penggarap) adalah pemandangan sehari-hari di sana. Sekitar pukul 11.30 WIB, mereka pulang ke rumah, istirahat. Lalu kembali ke sawah sekitar pukul 13.00 WIB hingga petang, sekitar pukul 16.30 WIB. Upah mereka bekerja seharian, hanya Rp 15.000.

Namun, tidak setiap hari mereka bekerja. Karena, pekerjaan baru datang bila ada pemilik lahan yang membutuhkan tenaga mereka. Kadang, dalam sebulan, mereka hanya bekerja 10-15 hari saja. Tidak hanya pria, wanita pun bekerja sebagai buruh tani, agar mencukupi kebutuhan rumah mereka.

Pemuda di kampung juga banyak yang menjadi pengangguran. “Ini karena kurang lahan pekerjaan. Apalagi tingkat pendidikan pemuda di kampung ini masih rendah. Hanya lulusan SD. Jarang sekali yang sekolah sampai lulus SMP, apalagi SMA,” tutur warga itu padaku. Maka, pemuda yang bergelar sarjana pun bisa dikatakan tidak ada. Meski warga tadi masih sangsi. “Mungkin anak ketua RT, Pak Darto, ada yang jadi sarjana. Yah, paling hanya satu – dua orang saja yang punya gelar sarjana di kampung ini,” kata warga itu.

Akibat rendahnya tingkat pendidikan yang dimiliki para pemuda itulah menyebabkan mereka hanya mampu bekerja sebagai buruh tani. “Lha wong cari kerja itu susah toh, Mas. Makanya, kalau nggak ada pekerjaan di sawah, ya mereka menganggur di rumah,” kata si warga. Dia tak memungkiri, ada pula sejumlah pemuda yang memilih mencari pekerjaan di luar kampungnya, sebagai tukang atau kuli bangunan.

Tak sedikit pula penduduk dusun yang bekerja ke luar negeri sebagai TKW atau TKI. Mereka berharap akan menghasilkan banyak uang guna mencukupi kebutuhan keluarga di kampung. Namun, biaya menjadi TKI tidak murah. Maka, mereka pun menjuali sapi atau berhutang ke tetangga dan saudaranya. “Saya sendiri rencana mau ke Kalimantan. Untuk itu, saya berencana menjual kambing untuk ongkos berangkat ke Kalimantan,” tutur dia. Berbeda dengan TKI, menjadi TKW tidak perlu mengeluarkan biaya awal. Nantinya agen akan langsung memotong gaji mereka.

Meski begitu, tidak semua warga langsung berhasil di luar negeri. Malah, ada warga yang pulang kampung tanpa membawa hasil. Kalaupun ada yang membawa penghasilan banyak, justru uang itu digunakan untuk membeli alat rumah tangga seperti TV dan motor. Ketika mereka harus kembali ke tempat mereka bekerja (menjadi TKI lagi), biaya tak ada, barang-barang pun dijual kembali. “Ini kan sama saja bohong ya, Mas? Malah miskin lagi mereka,” katanya. (Haris Yuniarsyah, Faskel KMW XVI, Srengat, Blitar, Jawa Timur; nina)

12 September 2008

Blitar, 3 Maret 2006
Jeritan Hati Adin

Gadis cilik ini bernama Adin Kalimatus Sakdiyah. Adin, panggilan akrabnya. Bapak Adin, seorang petani yang penghasilannya belum tentu cukup untuk membuat Adin dan adiknya menikmati pendidikan yang lebih baik.

Pada suatu malam, ketika hujan baru saja berhenti, aku melihat Adin tengah membimbing adiknya belajar di ruang tamu yang hanya diterangi lampu tempel itu. Adin duduk rapat di samping si adik. Dia mengajari adiknya dengan penuh cinta, kesabaran, dan kasih sayang, agar si adik menjadi anak pintar. Adin tentunya juga berharap dan berdo’a agar si adik kelak bisa menikmati pendidikan yang lebih baik dibanding dirinya. Adin baru menamatkan pendidikannya di Madrasah Ibtidaiyah. Seharusnya tahun ini sudah bisa sekolah di tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Tapi, sungguh malang. Karena ketidakmampuan orangtua Adin untuk membiayai sekolah, maka Adin pun hanya bisa diam di rumah.

Adin hanya bisa melihat teman-teman seusianya berangkat ke sekolah untuk menuntut ilmu, dengan tatapan sedih. Kerinduan akan indahnya dunia pendidikan hanya sebuah impian yang terus berkumandang di dalam hati gadis cilik ini. Adin hanya bisa pasrah menerima nasibnya. Dia tidak pernah tahu kapan kerinduan itu akan menjadi kenyataan.

Kasihan engkau, Adin, diusia semuda ini harus kehilangan kebahagiaan karena kemiskinan. Teman-teman seusiamu dari kalangan mampu, dengan mudah menggenggam kebahagiaan mengenyam pendidikan yang mereka inginkan. Mereka yang mampu tidak akan mempermasalahkan biaya SPP anak-anaknya yang mencapai jutaan rupiah per bulan. Anak-anak keluarga mampu bisa mendapat uang saku yang besar tiap bulannya, ditambah fasilitas telepon genggam, dan sopir pribadi. Begitu si anak pulang sekolah, tinggal telepon sopir, dan dalam sekejap, meluncurlah mobil mewah yang siap membawa si anak pulang ke rumah.

Lain halnya dengan Adin dan jutaan anak miskin lainnya. Mereka hanya bisa bermimpi tanpa pernah tahu kapankah impian buruk itu akan berakhir. Ironis. Kerinduan yang menggema dalam hati Adin dan jutaan anak miskin lainnya di bumi Indonesia tercinta ini, terungkap dalam sebuah harapan yang dinanti dan keluguan yang merintih.

“Lihatlah kami disini. Kami, bagian dari jutaan anak miskin yang punya cita-cita. Namun, cita-cita itu tak akan pernah terwujud jika engkau tak pernah mencintai kami. Kami ingin menggapai cita-cita itu, walau harus dengan perjuangan maha berat. Tak peduli orang tua kami miskin, kami akan siap meraih cita-cita itu. Tapi, apa karena miskin, maka kami tidak bisa menikmati pendidikan yang lebih baik? Dan, apakah karena miskin, maka kami harus kehilangan masa depan yang kami dambakan?

Tolong perhatikan nasib kami, perhatikan masa depan kami. Jangan biarkan kami tumbuh dewasa dengan bayangan hidup dirundung derita. Jangan biarkan ketika kelak kami dewasa, hanya bisa menjadi buruh tani saja. Jangan biarkan ketika kelak kami dewasa, hanya bisa hidup menjadi buruh cuci di negeri tetangga. Katanya Indonesia ini kaya raya? Gemah Ripah, Loh Jinawi pula? Ungkapan itu tak pernah terbukti. Karena saat ini kami, jutaan anak miskin di negeri ini, tak bisa menikmati pendidikan yang memadai.

Kembalikanlah cinta dan kepedulian yang kalian miliki kepada kami. Berikanlah cinta dan kepedulian itu. Kami, jutaan anak miskin di negeri ini menunggu dengan penuh harap. Jangan biarkan masa depan kami terenggut hanya karena kalian tak pernah peduli dan pura-pura tak tahu akan nasib kami. Indonesia memang negeri yang kaya, tapi kami lebih merindukan orang dengan hati yang kaya. Srengat, 14 Pebruari 2006. “Dipersembahkan buat Adin dan jutaan anak miskin lainnya. Semoga cepat atau lambat kalian segera menemukan kembali kebahagiaan untuk bisa menggapai cita-citamu”. (Haris Yuniarsyah, Faskel Srengat, Blitar, KMW XVI, Jatim; nina)


Blitar, 10 Juli 2006
Pesan Mbah Slamet, Penjual Kerupuk Singkong

Mbah Slamet, penjual kerupuk singkong. Menempuh jarak puluhan kilometer menjajakan kerupuknya, dari Blitar ke Malang. Kemiskinan tak membuat Mbah Slamet lemahTung, tung, tung, tung.. Suara kentongan itu terdengar jelas di depan posko kami. Ah, rupanya Mbah Slamet melintas dengan gerobak berisi kerupuk singkong buatannya. Mbah Slamet, seorang tua renta. Ia terus berjalan sambil membawa kerupuk singkong untuk dijual. Si Mbah pernah bercerita, ia sering berjalan kaki sambil membawa gerobak tersebut dari rumahnya yang berada di Kecamatan Wonodadi, Blitar, menuju Kota Malang, hanya untuk sekedar menjual kerupuk singkong buatannya sendiri.

Aku sempat terperangah, tidak percaya. Tapi, demikian kenyataannya. Mbah Slamet berjalan jauh melewati hutan belantara dan jalan berkelok-kelok yang jaraknya puluhan kilometer, hingga tiba di tempat tumpuan rejekinya, yaitu Stasiun Gadang Malang. “Kalau sampeyan pingin ketemu saya, sampeyan bisa nyari saya di Stasiun Gadang. Tanya saja ke orang-orang yang ada di sana, ‘yang namanya Mbah Slamet yang mana ya?’ pasti banyak orang yang tahu,” ujar Mbah Slamet kepadaku.

Sambil berbincang dan mengorek informasi dari beliau, aku mencoba membeli dua bungkus kerupuk singkong. “Berapa Mbah, harga kerupuk ini?” tanyaku. “Seribu rupiah, Mas, per bungkusnya,” jawab Mbah Slamet. “Saya beli tiga bungkus, Mbah,” aku pun mengeluarkan uang Rp 3.000 untuk membayar kerupuk yang kubeli. Di sampingku, ada seorang ibu yang memborong sepuluh bungkus kerupuk singkong buatan Mbah Slamet. Setelah Mbah Slamet berlalu, aku pun terlibat perbincangan santai dengan ibu tadi. Membahas kerupuk singkong dan pemiliknya.

“Saya kasihan Mas, melihat Mbah Slamet. Umurnya sudah tua, tapi tetap saja berjualan. Saya sering membeli kerupuk singkong Mbah Slamet, karena nggak tega melihat beliau. Tapi, saya akui Mas, kerupuk singkong buatan Mbah Slamet rasanya memang enak dan gurih. Jadi, saya sering menunggu beliau lewat untuk membeli kerupuk singkong,” tutur si ibu, lalu ia melangkah, pulang.

Cerita Mbah Slamet ini benar-benar unik dan luar biasa. Sosoknya memang sudah termakan usia, tapi tidak berarti melemah dan berhenti menjalani aktivitas hidup di dunia. Kemiskinan bukan berarti melemahkan hati dan pikiran. Kemiskinan bukan berarti menggelapkan mata dan hanya bisa berpangku tangan. Justru, karena kemiskinanlah, Mbah Slamet menjadi orang yang kuat. Karena kemiskinanlah, Mbah Slamet bangkit dari ketidakberdayaannya.

Beliau mengerahkan sisa tenaga di usianya yang terlampau senja untuk menyampaikan pesan kepada semua orang. “Inilah aku. Aku bukan orang yang lemah. Aku bukan orang yang bermartabat rendah. Walau usiaku sudah tua dan ajal mendekat, tidak berarti aku harus berdiam diri di rumah, berpasrah sambil menanti malaikat maut menjemput. Aku ingin di usiaku yang tua ini, masih tersisa tenaga yang bisa memberi banyak manfaat untuk keluarga dan orang-orang disekitarku.” Barangkali, itulah pesan yang disampaikan oleh Mbah Slamet kepada kita, meski tidak tersampaikan secara lisan

Perjalanan beliau melakoni hidup pada usia senja yang berteman setia dengan kemiskinan dapat kita artikan sebagai pesan yang langsung menyentuh dan menusuk relung hati kita. Bahasa tubuh beliau saat menarik gerobak kerupuknya, getar bibir beliau ketika berbicara, bola mata beliau yang memutih saat menatap, kesederhanaan dan kesahajaan beliau akan menjadi bagian dari sejarah kemiskinan, dan selamanya menjadi kenangan yang paling berharga bagi kita yang tulus dan ikhlas bersahabat dengan orang miskin. (Haris Yuniarsyah, Faskel Srengat, Blitar, KMW XVI Jawa Timur; nina)

05 September 2008

AZKA ULTAH KE-2 ...DAN ADIK NAYA

Di hari ulang tahun-nya yang ke 2...adik naya gajak Mas Azka foto bareng...

Tapi...si Azka kayaknya lagi ngambek...dan si adik disuruh pergi sama mas azka....

Gak apa-apa ya dik naya...nanti mas pasti akan ngajak adik untuk foto lagi....

IBUK DAN AZKA SIAP-SIAP JALAN-JALAN

Azka...hobinya ngajak jalan-jalan...
Ibuk-pun siap berangkat dan gak lupa ngajak azka untuk foto dulu sebelum jalan-jalan....

Maklum azka kayaknya GP (Gila Photo) kayak ayahnya.

PULANG DARI PASAR

Pulang dari pasar....

Yah....mumpung di negeri ini masih ada becak....
Istri dan anak-pun kuminta pulang ke pasar naik becak...sekalian untuk nambah rejeki buat bapak pengayuh becak.....


Mudah-mudahan...keunikan di negeri ini bisa terjaga dan lestari.